Kuesioner pis pk pdf download nama kepala rumah tangga






















Selanjutnya dari hasil olahan data umum dan khusus serta data Profil kecamatan, Puskesmas dapat mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan tambahan, masalah-masalah kesehatan lain, dan potensi kecamatan untuk mengatasi masalahmasalah kesehatan yang dihadapi. Penentuan prioritas masalah dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut: Penentuan prioritas masalah dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut: 1.

Masalah kesehatan prioritas untuk masing-masing keluarga 2. Masalah kesehatan prioritas untuk kecamatan Nilai total tertinggi akan menjadi masalah utama dalam pemberian intervensi. Contoh di atas dapat disajikan dalam contoh penentuan prioritas masalah kesehatan sebagai berikut. Mengacu pada tabel. Tabel 4. Indikator 1.

Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap 2. Bayi dipantau pertumbuhannya 3. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur. Ada keluarga tidak ada yang merokok. Nilai Keluarga Nilai Nilai Nilai Nilai Nilai Prioritas U S G F Total 0 4 3 5 5 17 1 0 4 3 4 5 16 2 0 4 2 4 4 14 3 0 4 3 4 2 13 4 Maka masalah utama untuk keluarga A adalah Bayi tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap berdasarkan hasil nilai total tertinggi yaitu Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan Keluarga 33 Mekanisme Perencanaan Tingkat Puskesmas 1 Berdasarkan hasil dari Tabel 2 maka persentase cakupan indikator terkecil yang sebelumnya menjadi prioritas masalah dapat berubah urutan prioritasnya dengan menggunakan rumus tersebut.

Tabel 5. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur 2. Penderita TB Paru mendapatkan pengobatan sesuai standar 3. Penyebab masalah kesehatan prioritas yang dihadapi tiap keluarga 2.

Penyebab masalah kesehatan prioritas yang dihadapi kecamatan Diagram tulang ikan atau pohon masalah akan tampak penyebab-penyebab masalah kesehatan dari segi-segi berikut: A. Konseling dan pemberdayaan keluarga dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapi keluarga, dengan terlebih dahulu memanfaatkan potensi yang ada di keluarga tersebut. Pemecahan masalah dapat mencakup aspek-aspek sebagai berikut: 1. Kegiatan yang akan dilakukan perlu ditetapkan target sasaran dan indikator kinerja untuk melakukan pengawasan, pengendalian dan penilaian.

Penyusunan RUK dilakukan dengan memperhatikan siklus pelaksanaan manajemen Puskesmas. Adapun kemungkinannya adalah sebagai berikut: 1. Skala prioritas harus dilakukan untuk memilih kegiatan-kegiatan yang dapat dibiayai dan menunda kegiatan-kegiatan lainnya. Rencana pelaksanaan kegiatan Puskesmas telah disusun yang selanjutnya akan disusun RPK Puskesmas dengan Pendekatan Keluarga sesuai dengan format pada pelaksanaan manajemen Puskesmas.

Matriks tersebut diatas dibuat dan diisi oleh masing-masing penanggungjawab program kegiatan berdasarkan RPK Puskesmas yang telah disusun. Matriks tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kebijakan daerah, dengan tidak mengurangi variabel kolom yang ada. Kolom 2. Kegiatan diisi dengan penjabaran kegiatan dari masing-masing upaya yang ada pada RPK Puskesmas 4. Kolom 3. Tujuan diisi dengan tujuan dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Kolom 4. Sasaran adalah jumlah populasi atau area di wilayah kerja yang akan dicakup dalam kegiatan. Kolom 5. Kolom 6. Penanggung jawab diisi Penanggung jawab kegiatan di Puskesmas. Kolom 7. Volume kegiatan diisi jumlah pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu 1 tahun. Kolom 8. Jadwal diisi dengan waktu pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu 1 tahun.

Kolom 9. Rincian Pelaksanaan diisi rincian kegiatan tanggal dan bulan pelaksanaannya dalam 1 tahun yang disesuaikan dengan jadwal kegiatan. Kolom Lokasi Pelaksanaan diisi lokasi pelaksanaan kegiatan. Biaya diisi anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan yang telah dirumuskan. Tabel 7. Matriks tersebut diatas merupakan kegiatan yang dilakukan Puskesmas. Target Indikator kegiatan pada contoh formulir diatas selanjutnya dapat ditambah berdasarkan dengan masalah prioritas kesehatan diwilayah kerja Puskesmas sesuai RUK Puskesmas yang telah disetujui.

Upaya Kesehatan diisi dengan UKM, UKP, pelayanan kefarmasian, keperawatan kesehatan masyarakat, dan pelayanan laboratorium yang dilaksanakan di Puskesmas. Kegiatan diisi dengan penjabaran kegiatan dari masing-masing upaya yang harus dilaksanakan dalam rangka mencapai target yang telah ditetapkan.

Rincian Pelaksanaan diisi rincian kegiatan dalam 1 tahun yang disesuaikan dengan jadwal kegiatan. Pelaksanaan kegiatan dari setiap program sesuai penjadwalan pada RPK bulanan, tribulanan dilakukan melalui forum yang dibentuk khusus dinamakan Forum Lokakarya Mini Puskesmas. Penggerakan melalui lokmin dan upaya lain juga dapat ditingkatkan dengan adanya penggerakan UKM yang lebih tepat sasaran dan efektif, termasuk penggerakan secara lintas sektor.

Kepala puskesmas akan menyusun strategi atas pelaksanaan RPK untuk menanggulangi segala permasalahan kesehatan prioritas dengan memanfaatkan seluruh potensi sumberdaya yang ada di dalam dan luar lingkungan kerjanya, membagi habis tugas kepada seluruh petugas puskesmas sesuai dengan kapasitasnya, mengatur waktu pelaksanaan kunjungan rumah, berkoordinasi dengan lintas sektor dalam pelaksanaan kunjungan rumah.

Pendekatan keluarga melalui kunjungan rumah di Puskesmas, dimaksudkan sehingga Puskesmas tidak hanya melakukan pelayanan UKP secara terintegrasi untuk semua golongan umur, tetapi juga pelayanan UKM agar benar-benar memberikan pelayanan yang mengikuti siklus hidup life cycle.

Kunjungan rumah dimaksudkan untuk melakukan pemberdayaan keluarga guna dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi. Beberapa masalah kesehatan tertentu tidak mungkin dapat diatasi secara tuntas oleh sebuah keluarga.

Hal ini karena masalah kesehatan tersebut terkait dengan penyebabpenyebab yang berada di luar kemampuan keluarga untuk mengatasinya. Masalah-masalah kesehatan keluarga lingkup kecamatan juga harus ditangani melalui pelaksanaan program-program kesehatan di Puskesmas, yang beberapa di antaranya dapat pula diintegrasikan ke dalam proses pengorganisasian masyarakat.

Pembina Keluarga harus membuat jadwal kunjungan rumah, agar tidak terjadi tumpang-tindih atau adanya keluarga yang tidak mendapat giliran kunjungan. Pelaksanaan kunjungan rumah memerlukan langkah-langkah seperti persiapan dan pelaksanaan. Persiapan terpenting adalah identifikasi masalah kesehatan yang dihadapi setiap keluarga dan potensi pemecahannya, serta melakukan analisis sampai ditetapkannya cara pemecahan masalah, sebagaimana telah diuraikan di Bab III.

Indeks keluarga sehat yang telah diketahui dan ditetapkannya cara memecahkan masalah yang dihadapi setiap keluarga, maka Pembina Keluarga terlebih dulu harus menetapkan tujuan akhir dari kunjungan rumahnya untuk masing-masing keluarga, yang harus dicapai dalam setahun. Untuk itu dapat digunakan format berikut.

Tabel 8. Setelah semua keluarga yang hendak dikunjungi pada kurun waktu tertentu misalnya 1 minggu didaftar, kemudian disusunlah rencana kunjungan rumah. Untuk membuat kunjungan ini dapat digunakan format berikut. Tabel 9. Format Rencana Kunjungan Rumah Minggu ke …….. Berikut ini disampaikan cara menerapkan SAJI. Begitu sampai di rumah yang hendak dikunjungi, sebaiknya ketuklah pintu dan ucapkan salam. Salam ini harus diucapkan dengan suara yang ceria disertai wajah yang cerah dan tersenyum.

Gambar 9. Beritahukan maksud kunjungan sebagai petugas Puskesmas yang ditugasi dalam membantu keluarga-keluarga di wilayah kerja Puskesmas untuk mengupayakan dan menjaga kesehatannya. Katakan bahwa jika mungkin ingin dilakukan perbincangan dengan seluruh keluarga. Pengembangan pembicaraan dimulai dengan mengajak keluarga membicarakan hal-hal yang bersifat umum saat anggota keluarga sudah berkumpul.

Misalnya tentang kemajuan yang dicapai desa setempat, persiapan menyambut Idul Fitri, kemeriahan menyambut perayaan Natal, atau kegembiraan menyambut musim panen. Keluarga dapat juga diajak membicarakan kegiatan sehari-hari anggota-anggota keluarga. Perihal masalah yang dihadapi keluarga tersebut barulah disampaikan saat suasana dirasa sudah cukup akrab dan hangat. Mulailah dengan masalah yang paling ringan tetapi prioritas. Pada kasus Keluarga B misalnya, maka dapat dimulai dengan menyampaikan tentang bayi di keluarga tersebut yang belum mendapat imunisasi dasar lengkap.

Ingat bahwa ini adalah tahap yang sangat menentukan keberhasilan, karena yang dianggap sebagai masalah oleh Pembina Keluarga, belum tentu dianggap masalah juga oleh keluarga tersebut. Ajak Bicara. Tujuan berkunjung ke rumah keluarga bukanlah untuk berbicara sendiri, melainkan berdialog atau berdiskusi dengan keluarga. Pembina Keluarga mulai masuk ke permasalahan yang dihadapi keluarga, ia harus pandai-pandai meman cing diskusi dengan mereka.

Gambar Perbincangan dapat dimulai dengan menanyakan apa masalah yang dihadapi keluarga berkaitan dengan bayinya. Dengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh keluarga, dengan sesekali bertanya untuk memperjelas atau menggali lebih dalam penjelasan keluarga. Penggunaan cara ini, akan diperoleh informasi tentang hal-hal berikut menggunakan Keluarga B sebagai contoh. Jelaskan dan Bantu. Dalam langkah ini, bertitik tolak dari perilaku, sikap, dan pemahaman keluarga terhadap masalah yang dihadapi contohnya: imunisasi bayi , Pembina Keluarga mulai memberikan penjelasan dan membantu.

Penjelasan ini disampaikan sambil menjajagi perkembangan pemahaman dan perubahan sikap keluarga, sampai diyakini bahwa mereka telah menyadari adanya masalah. Jelaskan dan Bantu Sebagai Langkah Ketiga Pembina Keluarga dapat mulai memberikan pengetahuan lebih banyak tentang masalah yang dihadapibila kesamaan pandangan tentang masalah yang dihadapi sudah tercapai.

Pembina Keluarga dapat menyampaikan perihal manfaat imunisasi misalnya, di mana dapat memperoleh pelayanan imunisasi, dan lain sebagainya. Pembina Keluarga banyak membutuhkan alat peraga dan bahkan dapat memberikan lembar informasi dari Pinkesga yang sesuai dengan materi pembahasan kepada keluarga. Pembina Keluarga dapat mengakhiri pembicaraan ketika dirasa sudah cukup untuk kunjungan kali itu.

Pembina Keluarga sebelum mengakhiri perbincang an, jangan lupa untuk mengingatkan kembali pokok-pokok pesan yang telah di sampaikan dan tentang apa yang harus dilakukan keluarga untuk mengatasi masa lah yang bersangkutan. Ingatkan Pokok-pokok Pesan 46 Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan Keluarga Penguatan Penggerakan-Pelaksanaan P2 Pembina Keluarga tetap harus memberikan kesan bahwa ia sangat memperhatikan keluarga yang bersangkutan dan ingin membantu mengatasi masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya sampai akhir pembicaraan.

Pembina Keluarga jangan lupa untuk membuat perjanjian kapan dapat berkunjung lagi ke keluarga tersebut. Dari uraian tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa SAJI tak ubahnya sebagai siklus yang harus diulang-ulang dari rumah keluarga ke rumah keluarga lain saat Pembina kunjungan rumah. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap attitude change pada orang yang diajak berkomunikasi. Komunikasi haruslah merupakan ajang bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap.

Hal tersebut akan memudahkan orang yang diajak berkomunikasi untuk memahami pesan yang akan dapat berbentuk komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal yang efektif adalah yang memiliki ciri-ciri berikut: a. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan komunikasi non-verbal adalah sebagai berikut. Berkaitan dengan komunikasi non-verbal, dalam membangun komunikasi efektif, sebaiknya Pembina Keluarga: a berhadapan dengan orang yang diajak berkomunikasi, b mempertahankan kontak mata, c membungkuk ke arah klien, d mempertahankan sikap terbuka, dan e tetap rileks sepanjang proses komunikasi.

Berkaitan dengan cara mengajukan pertanyaan, khususnya bila berkomunikasi dengan beberapa orang dalam keluarga, terdapat sejumlah hal yang sebaiknya dilakukan, dan sejumlah hal lain yang sebaiknya tidak lakukan. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: a. Pilihan lain, dapat digunakan teknik bertanya pantul.

Memotong pembicaraan. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pelaksanaan kunjungan rumah adalah: a. Jika pun kasusnya harus dibicarakan dengan keluarga atau orang lain hendaknya dilakukan tanpa menyebut nama anonym. Atau sesudah mendapat ijin dari keluarga yang bersangkutan.

Perhatian dan pujian akan meningkatkan semangat mereka. Jika perlu ulangilah penjelasan yang pernah disampaikan dengan menggunakan bahasa atau cara lain yang mungkin lebih mudah dipahami oleh keluarga. Oleh sebab itu, Pembina Keluarga hendaknya bersikap luwes dan berupaya menyesuaikan diri dengan setiap situasi dan kondisi yang dijumpai.

Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan Keluarga 49 Penguatan Penggerakan-Pelaksanaan P2 Dalam rangka pelaksanaan kunjungan rumah juga perlu diantisipasi adanya penolakan dari keluarga yang hendak dikunjungi. Jika ditolak oleh suatu keluarga pada kunjungan pertama, hendaknya tidak berkecil hati. Tetaplah bersikap ramah dan katakan bahwa Jika ditolak oleh suatu keluarga pada kunjungan pertama, hendaknya tidak berkecil hati.

Jika dengan berbagai alasan keluarga tersebut tetap menolak kunjungan, maka berkonsultasilah dengan orang yang dihormati oleh keluarga tersebut. Jika perlu datangilah lagi keluarga itu bersama orang yang dihormati tadi. Jangan Paksakan Untuk Diterima b. Penerimaan secara terpaksa basa-basi sebenarnya serupa dengan penolakan. Oleh sebab itu, sebaiknya tidak dilanjutkan perbincangan tentang masalah keluarga tersebut.

Ajaklah keluarga itu sedikit berbincang mengenai hal yang sekiranya menjadi perhatiannya, dan kemudian sampaikan bahwa sebaiknya perbincangan lebih lanjut ditunda sampai kunjungan berikutnya. Pelaksanaan program-program kesehatan tersebut dengan sendirinya telah menerapkan pendekatan keluarga. Sebagai contoh pada program imunisasi akan meningkatkan jumlah keluarga yang memberikan imunisasi dasar lengkap kepada bayinya.

Program pengobatan penderita TB paru akan mendukung peningkatan jumlah penderita TB paru yang berobat sesuai standar. Sejumlah pedoman telah tersedia sebagai acuan dalam pelaksanaan programprogram kesehatan di Puskesmas. Berikut adalah contoh dukungan program kesehatan terhadap peningkatan IKS dua belas indikator. Tabel Lokakarya Mini dilaksanakan sebulan sekali sebagai pertemuan internal Puskesmas lokmin bulanan. Peserta lokmin diperluas dengan mengundang pihak-pihak lintas sektor terkait setiap tiga bulan lokmin tribulanan.

Lokakarya mini tribulanan dimanfaatkan Puskesmas untuk hal-hal berikut: 1. Pengawasan-Pengendalian-Penilaian melalui lokmin dan upaya lain pun dapat ditingkatkan, termasuk Pengawasan-Pengendalian-Penilaian secara lintas sektor. Pengawasan dan pengendalian lintas program melalui lokmin bulanan pada dasarnya dimaksudkan untuk: 1.

Hal hal berikut perlu mendapat perhatian saat kunjungan rumah, seperti: a. Pengawasan dan pengendalian lintas sektor melalui lokmin tribulanan dimaksudkan untuk: 1. Penilaian pertama dilakukan pada pertengahan tahun berupa tinjauan tengah tahun midterm review. Tinjauan tengah tahun ini sebaiknya 56 Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas Melalui Pendekatan Keluarga Pengawasan-Pengendalian-Penilaian P3 sekaligus mencakup kerjasama lintas sektornya, dan dilaksanakan dalam lokmin bulan ke Tinjauan tengah tahun bertujuan untuk: 1.

Sudah seberapa dekat yang sudah dicapai tersebut dengan target yang telah ditetapkan dalam RPK. Penilaian kedua dilakukan pada akhir tahun, dengan memanfaatkan lokmin bulan ke Penilaian akhir tahun bertujuan untuk: 1.

Gambaran dari dash board ini sebaiknya ditampilkan dalam situs website Dinas Kesehatan Kabupaten. Peningkatan kualitas pelaksanaan pendekatan keluarga diperlukan untuk memberikan pelatihan bagi tenaga pelaksana yakni pelatihan teknis program tekpro , bina keluarga bika dan manajemen Puskesmas termasuk pendukungnya seperti pengelolaan data dan informasi, perencanaan kesehatan, dan lain-lain.

Pelatihan Teknis Program adalah pelatihan yang diselenggarakan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di bidang programnya misalnya pelatihan bagi tenaga gizi tentang program gizi tertentu. Tenaga gizi tersebut akan menjadi semakin profesional dalam melaksanakan program gizi setelah diberi pelatihan. Pelatihan Bina Keluarga adalah pelatihan yang diselenggarakan untuk para Pembina Keluarga, yakni tenaga kesehatan Puskesmas dengan profesi apa pun bidan, perawat, tenaga gizi, sanitarian, dan lain-lain.

Pelatihan Teknis Program dan Pelatihan Pembina Keluarga A pembekalan tentang pendataan dan kunjungan rumah dan pemberdayaan keluarga untuk para Pembina Keluarga. Pembekalan dilakukan dengan pelatihan singkat 3—4 hari di Dinas Kesehatan Provinsi. Kementerian Kesehatan perlu menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih training of trainers — TOT bagi petugas atau widyaiswara provinsi.

B pelatihan pengelolaan pangkalan data, pengolahan data keluarga, serta sistem informasi dan pelaporan untuk tenaga pengelola data Puskesmas. Data yang terkumpul dari Prokesga harus dikelola dalam bentuk pangkalan data database di Puskesmas dan diolah. Paling sedikit seorang tenaga Puskesmas harus mendapat pelatihan tentang pengelolaan pangkalan data termasuk pemeliharaan dan peremajaan datanya dan pengolahan data. Pelatihan sebaiknya juga dilaksanakan di Dinas Kesehatan Provinsi, sehingga dengan demikian Kementerian Kesehatan perlu menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih training of trainers — TOT bagi petugas atau widyaiswara provinsi.

Pelatihan ini pun sebaiknya diselenggarakan di Dinas Kesehatan Provinsi, sehingga dengan demikian Kementerian Kesehatan perlu menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih training of trainers — TOT bagi petugas atau widyaiswara provinsi. D pelatihan teknis program untuk tenaga kesehatan di Puskesmas. Keberhasilan pendekatan keluarga sangat ditentukan oleh kemampuan para petugas di Puskesmas, yang meliputi dokter, perawat, bidan, tenaga gizi, dan tenaga kesehatan lingkungan.

Pelatihan bagi mereka menjadi penting, karena mereka harus memahami konsep dan pelaksanaan pendekatan keluarga dalam mencapai Indonesia Sehat. Upaya dalam membina kesehatan masyarakat, diharapkan seluruh keluarga memperoleh kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan dengan kegiatan pendekatan keluarga. Pendekatan keluarga adalah salah satu cara untuk memberikan UKM dan UKP pada keluarga sebagai unit ter kecil dalam masyarakat untuk mewujudkan keluarga yang sehat dengan cara mengunjunginya.

Puskesmas dalam mewujudkan kemandirian keluarga harus dapat ber peran sebagai berikut: 1. Pendidik Puskesmas menjadi pusat pembelajaran dengan memberikan pengetahuan atau informasi kesehatan kepada keluarga. Tujuannya agar keluarga, dapat melaksanakan hidup sehat secara mandiri dan ber tanggung jawab serta responsif terhadap masalah kesehatan di dalam keluarganya, sehingga keluarga mampu mengatasi masalah kesehatannya sendiri.

Koordinator Puskesmas sebagai koordinator sangat diperlukan untuk mengatur kegiatan intervensi dari berbagai program kesehatan, agar pelayanan yang komprehensif dan berkelanjutan dapat tercapai.

Pelaksana Puskesmas sebagai tempat berkumpulnya pelaksana, memberi kegiatan intervensi kepada klien dan keluarga. Puskesmas bertanggung jawab dalam memberikan intervensi kesehatan secara langsung. Puskemas merupakan kontak pertama, pelaksana pemberi intervensi kepada keluarga dengan anggota keluarga yang sakit. Pengawas Kesehatan Puskesmas sebagai pengawas kesehatan, harus melakukan kegiatan kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.

Tenaga Puskesmas tidak hanya melakukan kunjungan, tetapi diharapkan ada tindak lanjut dari kunjungan ini. Konsultasi Puskesmas sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Sedangkan keadaan masing-masing indikator, mencerminkan kondisi PHBS dari keluarga yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan pendekatan keluarga ini tiga hal berikut harus diadakan atau dikembangkan, yaitu:. Sedangkan keterlibatan tenaga dari masyarakat sebagai mitra dapat diupayakan dengan menggunakan tenaga-tenaga berikut.

Toggle navigation. Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana KB Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap Bayi mendapat air susu ibu ASI eksklusif Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan Anggota keluarga tidak ada yang merokok Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional JKN Keluarga mempunyai akses sarana air bersih Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat Berdasarkan indikator tersebut, dilakukan penghitungan Indeks Keluarga Sehat IKS dari setiap keluarga.

Dalam pelaksanaan pendekatan keluarga ini tiga hal berikut harus diadakan atau dikembangkan, yaitu: Instrumen yang digunakan di tingkat keluarga.

Ajak Bicara. Tujuan berkunjung ke rumah keluarga bukanlah untuk berbicara sendiri, melainkan berdialog atau berdiskusi dengan keluarga. Pembina Keluarga mulai masuk ke permasalahan yang dihadapi keluarga, ia harus pandai-pandai meman- cing diskusi dengan mereka.

Gambar Perbincangan dapat dimulai dengan menanyakan apa masa- lah yang dihadapi keluarga berkaitan dengan bayinya. Dengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh keluarga, dengan sesekali bertanya untuk memperjelas atau menggali lebih dalam penjelasan keluarga. Penggunaan cara ini, akan diper- oleh informasi tentang hal-hal berikut menggunakan Keluarga B sebagai contoh.

Jelaskan dan Bantu. Dalam langkah ini, bertitik tolak dari perilaku, sikap, dan pemahaman keluarga terhadap masalah yang dihadapi contohnya: imunisasi bayi , Pembina Keluarga mulai memberikan penjelasan dan membantu. Penjelasan ini disampaikan sambil menjajagi perkembangan pemahaman dan perubahan sikap keluarga, sampai diyakini bahwa mereka telah menyadari adanya masalah. Jelaskan dan Bantu Sebagai Langkah Ketiga Pembina Keluarga dapat mulai memberikan pengetahuan lebih banyak tentang masalah yang dihadapibila kesamaan pandangan tentang masalah yang dihadapi sudah tercapai.

Pembina Keluarga dapat menyampaikan perihal manfaat imunisasi misalnya, di mana dapat memperoleh pelayanan imunisasi, dan lain sebagainya. Pembina Keluarga banyak membutuhkan alat peraga dan bahkan dapat mem- berikan lembar informasi dari Pinkesga yang sesuai dengan materi pembahasan kepada keluarga.

Pembina Keluarga dapat mengakhiri pembicaraan ketika dirasa sudah cukup untuk kunjungan kali itu. Pembina Keluarga sebelum mengakhiri perbincang- an, jangan lupa untuk mengingatkan kembali pokok-pokok pesan yang telah di- sampaikandan tentang apa yang harus dilakukan keluarga untuk mengatasi masa- lah yang bersangkutan.

Pembina Keluarga jangan lupa untuk membuat perjanjian kapan dapat berkunjung lagi ke keluarga tersebut. Dari uraian tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa SAJI tak ubahnya sebagai siklus yang harus diulang-ulang dari rumah keluarga ke rumah keluarga lain saat Pembina kunjungan rumah.

Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu meng- hasilkan perubahan sikap attitude change pada orang yang diajak berkomunikasi. Komunikasi haruslah merupakan ajang bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap. Hal tersebut akan memudahkan orang yang diajak berkomunikasi untuk memahami pesan yang akan dapat berbentuk komunikasi verbal dan komunikasi non- verbal.

Komunikasi verbal yang efektif adalah yang memiliki ciri-ciri berikut: a. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan komunikasi non-verbal adalah sebagai berikut.

Berkaitan dengan komunikasi non-verbal, dalam membangun komunikasi efektif, sebaiknya Pembina Keluarga: a berhadapan dengan orang yang diajak ber- komunikasi, b mempertahankan kontak mata, c membungkuk ke arah klien, d mempertahankan sikap terbuka, dan e tetap rileks sepanjang proses komunikasi. Berkaitan dengan cara mengajukan pertanyaan, khususnya bila berkomunikasi dengan beberapa orang dalam keluarga, terdapat sejumlah hal yang sebaiknya dilakukan, dan sejumlah hal lain yang sebaiknya tidak lakukan.

Hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: a. Pilihan lain, dapat digunakan teknik bertanya pantul. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pelaksanaan kunjungan rumah adalah: a. Jika pun kasusnya harus dibicarakan dengan keluarga atau orang lain hendaknya dilakukan tanpa menyebut nama anonym.

Atau sesudah mendapat ijin dari keluarga yang bersangkutan. Perhatian dan pujian akan meningkatkan semangat mereka.

Jika perlu ulangilah penjelasan yang pernah disampaikan dengan menggunakan bahasa atau cara lain yang mungkin lebih mudah dipahami oleh keluarga. Oleh sebab itu, Pembina Keluarga hendaknya bersikap luwes dan berupaya menyesuaikan diri dengan setiap situasi dan kondisi yang dijumpai. Jika ditolak oleh suatu keluarga pada kunjungan pertama, hendak- nya tidak berkecil hati. Tetaplah bersikap ramah dan katakan bahwa Jika ditolak oleh suatu keluarga pada kunjungan pertama, hendaknya tidak berkecil hati.

Jika dengan berbagai alasan keluarga tersebut tetap menolak kunjungan, maka berkonsultasilah dengan orang yang dihormati oleh keluarga tersebut. Jika perlu datangilah lagi keluarga itu bersama orang yang dihormati tadi.

Jangan Paksakan Untuk Diterima b. Penerimaan secara terpaksa basa-basi sebenarnya serupa dengan penolakan. Oleh sebab itu, sebaiknya tidak dilan- jutkan perbincangan tentang masalah keluarga tersebut.

Ajaklah keluarga itu sedikit berbincang mengenai hal yang sekiranya menjadi perhatiannya, dan kemudian sampaikan bahwa sebaiknya perbincangan lebih lanjut ditunda sampai kunjungan berikutnya. Pelaksanaan program-program kesehatan tersebut dengan sendirinya telah menerapkan pendekatan keluarga.

Pelaksanaan program-program kesehatan di Puskesmas. Sebagai contoh pada program imunisasi akan meningkatkan jumlah keluarga yang memberikan imunisasi dasar lengkap kepada bayinya. Program pengobatan penderita TB paru akan mendukung peningkatan jumlah penderita TB paru yang berobat sesuai standar. Sejumlah pedoman telah tersedia sebagai acuan dalam pelaksanaan program- program kesehatan di Puskesmas.

Berikut adalah contoh dukungan program kesehatan terhadap peningkatan IKS dua belas indikator. Tabel Lokakarya Mini dilaksanakan sebulan sekali sebagai pertemuan internal Puskesmas lokmin bulanan. Peserta lokmin diperluas dengan mengundang pihak-pihak lintas sektor terkait setiap tiga bulan lokmin tribulanan. Lokakarya mini tribulanan dimanfaatkan Puskesmas untuk hal-hal berikut: 1. Pengawasan-Pengendalian-Penilaian melalui lokmin dan upaya lain pun dapat ditingkatkan, termasuk Pengawasan-Pengendalian-Penilaian secara lintas sektor.

Pengawasan dan pengendalian lintas program melalui lokmin bulanan pada dasar- nya dimaksudkan untuk: 1. Hal- hal berikut perlu mendapat perhatian saat kunjungan rumah, seperti: a.

Pengawasan dan pengendalian lintas sektor melalui lokmin tribulanan dimak- sudkan untuk: 1. Penilaian pertama dilakukan pada pertengahan tahun berupa tinjauan tengah tahun midterm review.

Tinjauan tengah tahun bertujuan untuk: 1. Sudah seberapa dekat yang sudah dicapai tersebut dengan target yang telah ditetapkan dalam RPK. Penilaian kedua dilakukan pada akhir tahun, dengan memanfaatkan lokmin bulan ke Penilaian akhir tahun bertujuan untuk: 1. Gambaran dari dash board ini sebaiknya ditampilkan dalam situs website Dinas Kesehatan Kabupaten. Peningkatan kualitas pelaksanaan pendekatan keluarga diperlukan untuk memberikan pelatihan bagi tenaga pelaksana yakni pelatihan teknis program tekpro , bina keluarga bika dan manajemen Puskesmas termasuk pendukungnya seperti pengelolaan data dan informasi, perencanaan kesehatan, dan lain-lain.

Pelatihan Teknis Program adalah pelatihan yang diselenggarakan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di bidang programnya misal- nya pelatihan bagi tenaga gizi tentang program gizi tertentu. Tenaga gizi tersebut akan menjadi semakin profesional dalam melaksanakan program gizi setelah diberi pelatihan. Pelatihan Bina Keluarga adalah pelatihan yang diselenggarakan untuk para Pembina Keluarga, yakni tenaga kesehatan Puskesmas dengan profesi apa pun bidan, perawat, tenaga gizi, sanitarian, dan lain-lain.

Pelatihan Teknis Program dan Pelatihan Pembina Keluarga A pembekalan tentang pendataan dan kunjungan rumah dan pemberdayaan keluarga untuk para Pembina Keluarga. Pembekalan dilakukan dengan pelatihan singkat 3—4 hari di Dinas Kesehatan Provinsi. Kementerian Kesehatan perlu menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih training of trainers — TOT bagi petugas atau widyaiswara provinsi.

B pelatihan pengelolaan pangkalan data, pengolahan data keluarga, serta sistem informasi dan pelaporan untuk tenaga pengelola data Puskesmas. Data yang terkumpul dari Prokesga harus dikelola dalam bentuk pangkalan data database di Puskesmas dan diolah.

Paling sedikit seorang tenaga Puskesmas harus mendapat pelatihan tentang pengelolaan pangkalan data termasuk pemeliharaan dan peremajaan datanya dan pengolahan data. Pelatihan sebaiknya juga dilaksanakan di Dinas Kesehatan Provinsi, sehingga dengan demikian Kementerian Kesehatan perlu menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih training of trainers — TOT bagi petugas atau widyaiswara provinsi.

Pelatihan ini pun sebaiknya diselenggarakan di Dinas Kesehatan Provinsi, sehingga dengan demikian Kementerian Kesehatan perlu menyelenggarakan pelatihan untuk pelatih training of trainers — TOT bagi petugas atau widyaiswara provinsi. D pelatihan teknis program untuk tenaga kesehatan di Puskesmas. Keberhasilan pen- dekatan keluarga sangat ditentukan oleh kemampuan para petugas di Puskesmas, yang meliputi dokter, perawat, bidan, tenaga gizi, dan tenaga kesehatan lingkungan.

Pelatihan bagi mereka menjadi penting, karena mereka harus memahami konsep dan pelaksanaan pendekatan keluarga dalam mencapai Indonesia Sehat. Upaya dalam membina kesehatan masyarakat, diharapkan seluruh keluarga memperoleh kunjungan rumah dan pembinaan kesehatan oleh tenaga kesehatan dengan kegiatan pendekatan keluarga. Pendekatan keluarga adalah salah satu cara untuk memberikan UKM dan UKP pada keluarga sebagai unit ter- kecil dalam masyarakat untuk mewujudkan keluarga yang sehat dengan cara mengunjunginya.

Puskesmas dalam mewujudkan kemandirian keluarga harus dapat ber- peran sebagai berikut: 1. Pendidik Puskesmas menjadi pusat pembelajaran dengan memberikan penge- tahuan atau informasi kesehatan kepada keluarga. Tujuannya agar keluarga, dapat melaksanakan hidup sehat secara mandiri dan ber- tanggung jawab serta responsif terhadap masalah kesehatan di dalam keluarganya, sehingga keluarga mampu mengatasi masalah kesehat- annya sendiri.

Koordinator Puskesmas sebagai koordinator sangat diperlukan untuk mengatur kegiatan intervensi dari berbagai program kesehatan, agar pelayanan yang komprehensif dan berkelanjutan dapat tercapai. Pelaksana Puskesmas sebagai tempat berkumpulnya pelaksana, memberi kegiatan intervensi kepada klien dan keluarga.

Puskesmas bertanggung jawab dalam memberikan intervensi kesehatan secara langsung. Puskemas merupakan kontak pertama, pelak- sana pemberi intervensi kepada keluarga dengan anggota keluarga yang sakit. Pengawas Kesehatan Puskesmas sebagai pengawas kesehatan, harus melakukan kegiatan kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga. Tenaga Puskesmas tidak hanya melakukan kunjungan, tetapi diharapkan ada tindak lanjut dari kunjungan ini.

Konsultasi Puskesmas sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga secara aktif meminta nasehat, saran dan solusi atas permasalahan kesehatan yang dihadapi keluarga. Kolaborasi Puskesmas harus bekerjasama dengan jejaring, UKBM dan jaringannya dalam mela- kukan pendekatan keluarga untuk mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal.

Fasilitator Puskesmas membantu keluarga dalam menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal. Modifikasi Lingkungan Puskesmas sebagai agen perubahan terutama dalam memodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekitarnya agar dapat tercipta lingkungan yang sehat.

Kedekatan hubungan antara keluarga dan Puskesmas harus dapat dijalin dengan baik sehingga Puskesmas dapat memastikan kemandirian keluarga untuk menjalankan tugasnya dalam memelihara kesehatan anggota keluarganya dengan memastikan seluruh anggota keluarga memiliki perilaku hidup bersih dan sehat. Kepala keluarga dapat mengenali segala bentuk gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarganya, dapat mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat, dapat memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, dapat mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarganya, dan dapat mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan fasilitas kesehatan.

Pemberdayaan kemandirian masyarakat terus diupayakan dengan pengembangan dan pembinaan UKBM yang ada di desa. Puskesmas mempunyai peranan penting dalam pembinaan UKBM untuk menyelaraskan seluruh upaya di dalam pelaksana- an pembangunan kesehatan agar dapat berjalan selaras, terintegrasi dan berkesi- nambungan sehingga upaya pencapaian Indonesia sehat dapat segera terwujud. Puskesmas harus dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk mengoptimal- kan peran serta UKBM agar berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pendekatan keluarga dengan berbagai upaya sebagai berikut: 1.

Penguatan manajemen Puskesmas dengan pendekatan keluarga adalah sebagai salah satu cara dalam meningkatkan kemandirian keluarga dan masyarakat agar dapat menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungannya dengan berperilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan dan berkesinambungan agar pem- bangunan kesehatan dapat terwujud menuju Indonesia Sehat.

Oleh karena itu, sosialisasi merupakan langkah awal yang sangat menentu- kan pada setiap tingkat baik di internal masing-masing institusi maupun pada lintas sektor terkait. Masing-masing form terdiri dari sejumlah pertanyaan yang dibutuhkan untuk menilai Keluarga Sehat. Pengisian Form Data Individu dilakukan dengan cara menanyakan item pertanyaan langsung kepada responden. Jawaban pertanyaan diisikan sesuai jawaban responden pada kotak yang disediakan dilembar form. Tuliskan terlebih dahulu isian, baru kemudian isikan kodenya pada kotak yang tersedia 2.

Blok I Pengenalan Tempat Rincian 1. Provinsi Isikan nama provinsi sesuai lokasi pengambilan data dan tuliskan kode provinsi di kotak yang disediakan.

Kode provinsi terdiri dari dua digit. Rincian 2. Rincian 3. Kecamatan Isikan nama kecamatan sesuai lokasi pengambilan data dan tuliskan kode kecamatan di kotak yang disediakan. Kode kecamatan terdiri dari 3 digit. Rincian 4. Nama Puskesmas Isikan nama puskesmas yang melakukan pendataan dengan jelas menggunakan huruf balok. Pemberian nomor urutan puskesmas sesuai kesepakatan di kecamatan, terdiri dari 2 digit. Rincian 5. Di wilayah tertentu, RW juga bisa didefinisikan sebagai lingkungan, dusun, banjar atau nama lain sesuai dengan definisi di wilayah setempat.

RT adalah satuan wilayah administrasi di bawah RW atau nama lain setingkat RT sesuai dengan definisi di wilayah setempat. Sedangkan wilayah administrasi di bawah RW tidak ada tidak ada RT.

Nomor urut RW di desa tersebut sesuai nomor lingungan. Rincian 7. Rincian 8. Nomor Urut Keluarga Nomor urut keluarga adalah nomor urut keluarga yang didatangi yang terdapat di dalam wilayah Rukun Tetangga.

Nomor urut keluarga diisikan dengan nomor 1, 2, 3,….. Jika diwilayah tersebut tidak ada Rukun Tetangga, maka nomor urut keluarga diisikandengan nomor 1, 2, 3,….. Catatan: a. Nomor urut keluarga berbeda dengan nomor rumah yang tercantum pada alamat rumah. Rincian 9. Jumlah Anggota Keluarga AK Isikan nama kepala keluarga sesuai dengan status perkawinan yang ada pada keluarga tersebut, isikan jelas menggunakan huruf balok.

Anggota keluarga yang berstatus sebagai suami akan menjadi kepala keluarga. Rincian 2a. Orang yang telah tinggal dikeluarga 6 bulan atau lebih atau yang telah tinggal dikeluarga kurang dari 6 bulan tetapi berniat tinggal di keluarga tersebut 6 bulan atau lebih. Dianggap sebagai ART: Pembantu rumah tangga, sopir, tukang kebun yang tinggal dan makan di rumah majikannya dianggap sebagai ART majikannya, tetapi yang hanya makan saja dianggap bukan ART majikannya. Rincian 2b.

Apabila tidak semua AK ada di rumah pada saat kunjungan survei pertama, maka petugas Puskesmas diharuskan mendatangi kembali rumah tangga tempat AK tinggal setelah sebelumnya melakukan perjanjian kapan akan melakukan kunjungan ulang. Rincian 2c. Rincian 2d. Rincian 2e. Rincian 2f. Apakah tersedia sarana air bersih di lingkungan rumah Ditanyakan tentang ketersediaan sarana air bersih yang dimiliki oleh keluarga dan digunakan untuk seluruh keperluan keluarga termasuk untuk keperluan makan, minum, masak, mandi, dan mencuci.

Isikan satu kode jawaban sesuai jawaban responden ke dalam kotak yang tersedia. Apakah jenis sumber airnya terlindung Ditanyakan apakah jenis sumber air bersih yang digunakan sesuai jawaban Rincian 3 merupakan sumber air terlindung. Yang termasuk dalam kategori air bersih terlindung adalah: 1.

PDAM adalah air yang berasal dari perusahaan air minum yang dialirkan langsung ke rumah dengan beberapa titik kran, biasanya menggunakan meteran termasuk perusahaan air minum swasta. Sumber air terlindung adalah sumber air tanah yang secara langsung tanpa diolah digunakan untuk keperluan keluarga termasuk sumur pompa, sumur gali terlindung, dan mata air terlindung. Apakah tersedia jamban keluarga Ditanyakan tentang ketersediaan jamban yang digunakan dalam rumah di keluarga.

Yang dimaksud dengan ketersediaan jamban dalam pertanyaan ini adalah kepe- milikan Jamban oleh sebuah keluarga. Jika dalam satu rumah terdiri dari bebe- rapa keluarga dan menggunakan jamban yang sama, maka dikatakan seluruh keluarga yang tinggal dalam rumah tersebut dinyatakan memiliki jamban keluarga. Jamban komunal umum tidak termasuk dalam ketersediaan jamban keluarga karena biasanya digunakan oleh beberapa keluarga yang tidak tinggal pada rumah yang sama.

Sebagai contoh rumah kontrakan yang hanya memiliki 1 satu jamban yang digunakan bersama-sama oleh semua keluarga yang berada di kontrakan tersebut maka dianggap tidak memiliki jamban keluarga. Rincian 6. Apakah jenis jambannya saniter Ditanyakan tentang jenis jamban keluarga yang digunakan. Saniter adalah kondisi fasilitas sanitasi yang memenuhi standar kesehatan, yaitu: 1. Tidak mengakibatkan penyebaran bahan-bahan yang berbahaya secara langsung.

Dapat mencegah vektor penyebar penyakit. Termasuk kategori jamban saniter adalah jamban yang menggunakan kloset tempat jongkok leher angsa dan plengsengan. Termasuk kategori jamban tidak saniter adalah jika tidak memenuhi kriteria diatas. Gangguan jiwa berat adalah gangguan jiwa yang ditandai ketidakmampuan menilai realitas yang meliputi gangguan pada proses berpikir, perasaan, persepsi, dan tingkah laku.

Ditandai oleh gejala-gejala proses, arus pikir belajar, logika, perhatian, bicara kacau, dll , perasaan mood , persepsi waham, halusinasi, ilusi, dll , tingkahlaku agresivitas, katatonik mematung , autistik, dll. Bila pernah didiagnosis schizoprenia oleh tenaga kesahatan, apakah selama ini AK tersebut minum obat gangguan jiwa berat secara teratur. Skizofrenia ditangani dengan obat-obatan medis antipsikotik dan terapi sebagai bentuk pengobatan psikologis.

Isikan satu kode jawaban sesuai jawaban responden kedalam kotak yang tersedia. Apakah ada AK yang dipasung? Pengikatan merupakan semua metode manual yang menggunakan materi atau alat mekanik yang dipasang atau ditempelkan pada tubuh dan membuat tidak dapat bergerak dengan mudah dengan mem- batasi kebebasan dalam menggerakkan tangan, kaki atau kepala.

Tidak ada batasan waktu yang ditentukan. Pemasungan antara lain: 1. Memasukkan dalam kurungan, kerangkeng. Mengisolasi orang di ruang tertentu atau area tertentu kamar, hutan, kebun, ladang, gubuk dan sebagainya. Penelantaran yang disertai salah satu metode untuk membatasi kebebasan ber- gerak. Tidak termasuk pasung apabila dilakukan pengekangan sementara pada saat fase gawat darurat difasilitas kesehatan. Blok III. Keterangan Pengumpul Data Rincian 1.

Nama Pengumpul Data Isikan nama petugas yang melakukan pengumpulan data dengan jelas menggu- nakan huruf balok. Nama Supervisor Isikan nama supervisor yang melakukan supervisi pengumpulan data dengan jelas menggunakan huruf balok.

Nama supervisor ditentukan melalui kesepakatan di puskesmas masing-masing. Tanggal Pengumpulan Data Isikan tanggal, bulan, dan tahun saat pengumpulan data dilakukan. Blok IV. Jika banyaknya anggota keluarga lebih dari 15orang, maka dipriori- taskan AK dengan hubungan kekeluargaan terdekat atau AK yang lebih lama tinggal Kolom 2 : Nama anggota keluarga Tanyakan nama AK, usahakan tidak membuat singkatan yang akan membingungkan.



0コメント

  • 1000 / 1000